Rabu, 12 Januari 2011

Psikologi Komunikasi : Karakteristik Manusia Komunikan

Pada suatu peristiwa komunikasi, psikolog justru memfokuskan perhatiannya pada perilaku komunikan (partisipan komunikasi) Psikolog mulai masuk ketika membicarakan:
1. Bagaimana manusia memproses pesan yang diterimanya
2. Bagaimana cara manusia berpikir
3. Bagaimana cara manusia dipengaruhi lambang-lambang yang dimiliki.
Setiap bidang ilmu memiliki definisi sendiri tentang manusia. Dalam ilmu psikologi ada beberapa konsepsi tentang manusia yang juga turut melatarbelakangi banyak teori dalam ilmu komunikasi. Pendekatan tersebut adalah:

PSIKOANALISIS

Didirikan oleh Sigmund Freud, yang berusaha merumuskan psikologi manusia. Aliran ini beranggapan bahwa unconsciouness (ketidaksadaran) adalah bagian penting yang mempengaruhi perilaku manusia. Unconscious adalah ‘reservoir’ dorongan insting dan gudang penyimpanan segala pemikiran dan harapan yang tidak muncul dalam kesadaran yang disebabkan oleh konflik psikologis. Menurut Freud, unconscious adalah ‘major motivating force behind human behavior’ . Perilaku manusia adalah merupakan hasil dari 3 subsistem kepribadian, yaitu:
1. Id. Dorongan yang muncul dari unconscious yang menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia (pusat instik). Id bergerak berdasarkan pleasure principal, secara khusus memusatkan diri pada pemuasan tanpa memperhatikan logika, realitas atau moralitas. Id ,merupakan tabiat hewani manusia, bersifat menuntut, impulsive, dan kekanak-kanakan. Ada 2 instink dominan: Libido (eros): instink reproduktif yang member energi dasar untuk kegiatan konstruktif. Mis: seks, cinta diri, kasih ibu, dll. Thanatos: instink destruktif dan agresif (instink kematian).
2. Ego. Ego menjembatani tuntutan Id dengan realitas dunia luar. Id mencari pemenuhan kepuasan namun tidak dapat menentukan perbuatan yang berbahaya atau aman. Ego berperan sebagai mediator antara hasrat hewani manusia dengan tuntutan rasional. Menurut Freud, ego mulai berkembang sejak manusia lahir, namun tidak kelihatan sampai umur 6 bulan. Tidak seperti id, Ego beroperasi dalam kesadaran dan bergerak berdasarkan reality principle. Ego tidak bisa menghilangkan id, tapi berusaha membatasi, mengalihkan atau melindungi id agar diri dapat merasakan kepuasan dengan kemungkinan damage atau pain yang paling kecil.
3. Superego. Superego atau polisi kepribadian, mewakili gambaran ideal dan standar moral masyarakat yang diajarkan orang tua pada anaknya. Sering diistilahkan dengan hati nurani (conscience), yaitu internalisasi norma social dan cultural. Id dan superego berada di bawah alam sadar. Superego secara terus-menerus menekan dorongan seksual dan kesenangan utuk memenuhi tuntutan ideal moralitas. Superego akan menimbulkan perasaan bangga dan harga diri apabila sudah melakukan perbuatan ‘baik’ dan akan merasa bersalah apabila merasa melakukan perbuatan ‘jahat’.
Psikoanalisis : intreaksi antara komponen biologis, psikologis dan sosial (animal, rasional dan moral). Bagaimana cara Ego menyeimbangkan pertentangan tujuan antara Id dan Superego sambil tetap memperhatikan tuntutan realitas? Pertanyaan ini membawa kita pada Mekanisme Kegelisahan dan Mekanisme Pertahanan Diri. Ketika Ego gagal menyatukan tuntutan Id dan Superego, maka seseorang akan mengalami tekanan psikis yang disebut dengan Kegelisahan (Anxiety). Anxiety adalah pertentangan di dalam diri yang timbul ketika Ego menyadari bahwa ekspersi dorongan dari Id akan mengakibatkan suatu kekerasan/ menyakiti dan atau tuntutan Superego sebagai sesuatu yang tidak mungkin. Apabila ini terjadi, maka Ego akan mengambil jalan Mekanisme Pertahanan Diri, strategi mental yang menghalangi dorongan merusak dari Id sambil mengurangi kegelisahan. Beberapa bentuk dari Mekanisme Pertahanan Diri adalah :
1. Repression : Menekan dorongan Id yang tidak dapat diterima (unacceptable) kembali ke dalam ketidaksadaran.
2. Denial : Penolakan pada ancaman yang disadari/ diakui.
3. Regerssion : seseorang kembali pada perilakuperilaku yang biasa dilakukannya ketika masih muda/ kecil.
4. Reaction formation : dorongan atau perasaan yang menimbulkan kegelisahan digantikan dengan pertantangan langsung perasaan tersebut.
5. Projection : menghubungkan perasaan-perasaan yang dialami seseorang kepada orang lain.
6. Displacement : mengalihkan perasaan-perasaan yang tidak dapat diterima dari target yang sebenarnya kepada target yang lebih “aman”.
7. Sublimation: adalah suatu bentuk lain displacement : dorongan-dorongan tersembunyi diarahkan pada tujuan atau keinginan yang ingin dicapai oleh masyarakat secara umum.
8. Rationalization : terjadi ketika seseoang berusaha untuk menjelaskan kegagalan atau hambatan dalam suatu cara yang aman/ tidak mengancam.

Psikoanalisis juga menjelaskan tahapan perkembangan Psikoseksual:
1. Oral stages: bayi.
2. Anal stage: tahun kedua kehidupan anak.
3. Phallic stages: tahun ketiga, kelima atau keenam kehidupan anak.
4. Latency: umur kelima atau keenam sampai pubertas.
5. Genital stages: masa dewasa.

Kritik terhadap Psikoanalisis:
1. Data tidak dikumpulkan dan dianalisis secara ilmiah atau scientific -> sangat bergantung pada studi kasus
2. Sampel sangat kecil dan atypical
3. Konsep-konsep Freudian untestable: didefinisikan dalam cara yang tidak bisa di approve atau disapprove
4. Mengandung bias gender


BEHAVIORISME

Perilaku manusia adalah produk dari dorongan-dorongan lingkungan. Learning is “the reassortment of responses in a complex situation.” – it is the result of conditioning (human behavior not a function of needs or drives). Fokus pada perlaku yang dapat diukur, dilukiskan dan diramalkan. Semua perilaku manusia adalah proses belajar, dan proses itu mendapat penaruh dari lingkungan Aliran ini beranggapan bahwa perilaku manusia dikendalikan oleh faktor utama, yaitu faktor lingkungan. Konsep belajar:
1. Classical Conditioning
2. Operant Conditioning

Asumsi konsepsi Behaviorisme antara lain :
1. Pengalaman adalah satu-satunya jalan ke pemilikan pengetahuan.
2. Idea dan pengetahuan merupakan dua hal yang dihasilkan oleh pengalaman
3. Seluruh perilaku manusia, kepribadian dan tempramen ditentukan oleh pengalaman indrawi
4. Organisme dilahirkan tanpa sifat-sifat sosial dan psikologis, dimana perilaku adalah hasil pengalaman
5. Perilaku digerakkan dan dimotivasi oleh kebutuhan untuk memperbanyak kesenagan dan mengurangi penderitaan.

Kritik terhadap Behaviorisme :
1. Reductionistic -> view that complex behaviors can be understood if broken down into smaller Idea
2. Narrow definition of behavior
3. Narrow definition of learning -> no distinction between learning and performance
4. Fails to deal with the source of behavioral change
5. Lack of naturalistic observation


KOGNITIVIST

Aliran ini melihat bahwa tindakan manusia muncul dari poses berpikir, bukan sekedar data dari lingkungan yang diterima oleh alat indera. Aliran ini melihat bahwa proses-proses seperti memory, bahasa, pikiran, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan turut serta memberi kontribusi terhadap munculnya suatu perilaku. Misal: memory bukanlah proses pasif, namun individu secara aktif menginterpretasikan kejadian. Karena itu memory terhadap suatu kejadian dapat berubah sejalan dengan waktu. Contoh lain: schema.

Asumsi Psikologi Kognitif
1. Jiwa (mind) yang menjadi alat utama pengetahuan.
2. Jiwa menafsirkan pengalaman indrawi secara aktif; mencipta, mengorganisir, menafsirkan, mendistorsi, dan mencari makna.
3. Manusia tidak memberikan respon kepada stimuli secara otomatif, namun melalui proses berpikir.
4. Sebelum memberikan respon, manusia menangkap terlebih dahulu “pola” stimuli secara keseluruhan dalam satuan-satuan yang bermakna.
5. Lewin merumuskan perilaku manusia sebagai B=f (P,E) artinya Behavior adalah hasil interaksi antara Person dan Environment.


HUMANISTIK

Psikologi humanistik lebih menekankan pada pentingnya kesadaran daripada ketidaksadaran, motivasi dan perilaku. Mendasarkan pemikirannya pada adanya keinginan bebas (free will) dan pilihan-pilihan dalam diri manuasia. Humanistic psychology is a psychological perspective that emphasizes the study of the whole person. Humanistic psychologists look at human behavior not only through the eyes of the observer, but through the eyes of the person doing the behaving. Humanistic psychologists believe that an individual's behavior is connected to his inner feelings and selfimage. Pendekatan Humanistik menekankan pada dua asumsi :
1. Karena pengalaman subjektif adalah sesuatu yang unik, maka kita akan dapat mengetahui kepribadian orang lain hanya dengan berusaha melihat dunia dari pandangan seseorang tersebut.
2. Seseorang bebas untuk menjadi seseorang yang dia inginkan, untuk membuktikan dirinya sendiri, menentukan nasibnya sendiri dan menuliskan sejarahnya sendiri.

James Bugental (1964), menyimpulkan dalam the five postulates of Humanistic Psychology:
1. Human beings cannot be reduced to components.
2. Human beings have in them a uniquely human context.
3. Human consciousness includes an awareness of oneself in the context of other people.
4. Human beings have choices and responsibilities.
5. Human beings are intentional, they seek meaning, value and creativity

Inti dari Pendekatan Humanistik Keyakinan yang kuat pada Self Determination dan Individual Potential. Contoh Pendekatan Humanistik : Therory of The Self dari Carl Rogers dan Self Actualization dari Abraham Maslow.

Sumber : Bahan Kuliah Mata Kuliah Psikologi Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro Semarang (Dosen : S Rouli Manalu, S.Sos, MA)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar