Rabu, 04 Agustus 2010

Teori Komunikasi : Interaksionisme Simbolik (George Herbert Mead)

George Herbert Mead mengagumi kempampuan manusia untuk menggunakan simbol; dia menyatakan bahwa orang bertindak berdasarkan makna simbolik yang muncul didalam sebuah situasi tertentu. Simbol yang dimaksud adalah label arbitrer atau representasi dari fenomena. Teori ini menekankan pada hubungan antara simbol dan interaksi. Raph Larossa dan Donald C. Reitzes (1993) mengatakan bahwa interaksionisme simbolik adalah pada intinya sebuah kerangka referensi untuk memahami bagaimana manusia, bersama dengan orang lainnya, menciptakan dunia simbolik dan bagaimana dunia ini, sebaliknya membentuk perilaku manusia. Dalam pernyataan ini, kita dapat melihat argument Mead mengenai saling ketergantungan antara individu dan masyarakat.

Sejarah Interaksionisme Simbolik
Interaksionisme simbolik lahir pada dua universitas: Universitas Iowa dengan tokoh Manford Kuhn dan Universitas Chicago dengan tokoh George Herbert Mead. Kedua universitas ini mengembangkan dua metode yang berbeda. Herbert Blummer (Universitas Chicago) menyatakan bahwa studi mengenai manusia tidak dapat dilaksanakan dengan menggunakan metode yang sama seperti yang digunakan untuk mempelajari hal lainnya. Mahzab Chicago mendukung penggunaan studi kasus dan sejarah serta wawancara tidak terstruktur. Sedangkan aliran dari Universitas Iowa mengadopsi pendekatan kuantitatif dalam studinya. Mahzab Iowa beranggapan bahwa konsep interaksionisme simbolik dapat dioperasionalkan, dikuantifikasi, dan diuji, dalam hal ini dikembangkan sebuah tekni “kuesioner dua puluh pertanyaan sikap diri”.

Tema dan Asumsi Interaksionisme Simbolik
1. Pentingnya makna bagi perilaku manusia. Teori ini berpegang bahwa individu membentuk makna melalui proses komuniksai karena makna tidak bersifat intrinsik terhadap apapun. Dibutuhkan konstruksi interpretif diantara orang-orang untuk menciptakan makna, bahkan tujuan dari teori ini adalah menciptakan makna yang sama. Asumsi-asumsinya:
• Manusia bertindak terhadap manusia lainnya berdasarkan makna yang diberikan orang lain kepada mereka. Asumsi ini menjelaskan perilaku sebagai suatu rangkaian pemikiran dan perilaku yang dilakukan secara sadar antara rangsangan dan respons yang berkaitan dengan rangsangan tersebut.
• Makna diciptakan dalam interaksi antarmanusia. Mead menekankan dasar intersubjektif dari makna. Makna dapat ada, menurut Mead, hanya ketika orang-orang memiliki interpretasi yang sama mengenai symbol yang mereka pertukaran dalam interaksi.
• Makna dimodifikasi melalui proses interpretif. Blumer menyatakan bahwa proses interpretif ini memiliki dua langkah. (1) Para pelaku menentukan benda-benda yang mempunyai makna. (2) Melibatkan perilaku untuk memilih, mengecek dan melakukan transformasi makna di dalam konteks di mana mereka berada.
2. Pentingnya konsep diri. Tema kedua pada teori ini berfokus pada pentingnya konsep diri (self-concept), atau seperangkat persepsi yang relatif stabil yang dipercaya orang mengenai dirinya sendiri. Asumsi-asumsinya:
• Individu-individu mengembangkan konsep diri melalui interaksi dengan orang lain. Asumsi ini menyatakan bahwa kita membangun perasaan akan diri (sense of self) tidak selamanya melalui kontak dengan orang lain. Orang-orang tidak lahir dengan konsep diri; mereka belajar tentang diri mereka melalui interaksi.
• Konsep diri memberikan motif penting untuk perilaku. Pemikiran bahwa keyakinan, nilai, perasaan, penilaian-penilaian mengenal diri mempengaruhi perilaku adalah sebuah prinsip penting pada interaksionisme simbolik. Mead berpendapat bahwa karena manusia memiliki diri, mereka memiliki mekanisme untuk berinteraksi dengan dirinya sendiri. Mekanisme ini digunakan untuk menuntun perilaku dan sikap.
3. Hubungan antara individu dan masyarakat. Tema ini berkaitan antara kebebasan individu dan batasan social. Dalam hal ini dicoba dijelaskan mengenai keteraturan dan perubahan dalam proses social. Asumsi-asumsinya:
• Orang dan kelompok dipengaruhi oleh proses budaya dan sosial. Asumsi ini mengakui bahwa norma-norma social membatasi perilaku manusia. Selain itu, budaya secara kuat mempengaruhi perilaku dan sikap yang kita anggap penting dalam konsep diri.
• Struktur sosial dihasilkan melalui interaksi sosial. Asumsi ini menengahi posisi yang diambil oleh asumsi sebelumnya. Interaksionisme simbolik mempertanyakan pendangan bahwa struktur sosial tidak berubah serta mengakui bahwa individudapat memodifikasi situasi sosial. Dengan demikian para peserta dalam interaksi memodifikasi struktur dan tidak secara penuh dibatasi oleha hal tersebut. Dengan kata lain, manusia adalah pembuat pilihan.

Konsep Penting
PIKIRAN (mind), sebagai kemampuan untuk menggunakan simbol yang mempunyai makna sosial yang sama, dan Mead percaya bahwa manusia harus mengembangkan pikiran melalui interaksi dengan orang lain. Manusia tidak dapat berinteraksi dengan orang lain apabila belum mengenal bahasa. Bahasa itu sendiri tergantung pada simbol signifikan (significant symbol), atau simbol-simbol yang memunculkan makna yang sama bagi banyak orang. Dengan bahasa, manusia dapat mengembangkan pikiran menjadi pemikiran (thought) dan akhirnya menghasilkan pengambilan peran (role taking), atau kemampuan untuk secara simbolik menempatkan dirinya sendiri dalam diri khayalan orang lain.
DIRI (self), sebagai kemampuan untuk merefleksikan diri kita sendiri dari perspektif orang lain. Bagi Mead, diri berkembang dari sebuah jenis pengambilan peran yang khusus – maksudnya, membayangkan bagaimana kita dilihat orang lain. Mead meminjam konsep Charles Cooley (1912), cermin diri (looking-glass-self), atau kemampuan kita untuk melihat diri kita sendiri dalam pantulan dan pandangan orang lain.
MASYARAKAT (society), sebagai jejaring hubungan sosial yang diciptakan manusia. Individu-individu terlibat didalam masyarakat melalui perilaku yang mereka pilih secara aktif dan suka rela. Jadi, masyarakat menggambarkan keterhubungan beberapa perangkat perilaku yang terus disesuaikan oleh individu-individu. Masyarakat ada sebelum individu tetapi juga diciptakan dan dibentuk oleh individu, dengan melakukan tindakan sejalan dengan orang lainnya (Forte, 2004). Ada dua bagian penting masyarakat yang mempengaruhi pikiran dan diri, yaitu:
• Orang lain secara khusus (particular others), merujuk pada individu-individu dalam masyarakat yang signifikan bagi kita. Orang-orang ini biasanya adalah anggota keluarga, teman, dan kolega di tempat kerja serta supervisor. Kita melihat orang lain secara khusus tersebut untuk mendapatkan rasa penerimaan sosial dan rasa mengenai diri. Sering kali pengharapan dari beberapa particular others mengalami konflik dengan orang lainnya.
• Orang lain secara umum (generalized others), merujuk pada cara pandang dari sebuah kelompok sosial atau budaya sebagai keseluruhan. Hal ini diberikan oleh masyarakat kepada kita, dan “sikap dari orang lain secara umum adalah sikap dari keseluruhan komunitas” (Mead, 1934). Orang lain secara umum memberikan menyediakan informasi mengenai peranan, aturan, dan sikap yang dimiliki oleh komunitas. Orang lain secara umum juga memberikan kita perasaan mengenai bagaiman orang lain bereaksi kepada kita dan harapan sosial secara umum. Perasaan ini berpengaruh dalam mengembangkan kesadaran sosial. Orang lain secara umum dapat membantu dalam menengahi konflik yang dimunculkan oleh kelompok-kolompok orang lain secara khusus yang berkonflik.

Daftar Pustaka
West, Richard. Pengantar Teori Komunikasi : Teori dan Aplikasi. Jakarta : Salemba Humanika, 2008

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar